Berita Siaga
Erupsi Gunung Api di Indonesia: Waspadai Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan
Indonesia kembali menghadapi peningkatan aktivitas vulkanik. Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus sejak 5 September 2026, setelah sebelumnya aktivitas erupsi berlangsung sejak Juli. Badan Geologi menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga) dan meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 km dari pusat aktivitas gunung. (Badan Geologi)
Pada saat yang hampir bersamaan, beberapa gunung api lain di Indonesia juga dilaporkan mengalami erupsi, termasuk Gunung Semeru, Gunung Ibu, dan Ili Lewotolok. Kondisi ini membuat masyarakat perlu semakin memperhatikan informasi resmi dan menjaga kesehatan, khususnya jika berada di wilayah yang terdampak abu vulkanik. (kontan.co.id)
Bukan Hanya Soal Letusan, Abu Vulkanik Juga Berbahaya
Ketika gunung api erupsi, material yang dilepaskan tidak hanya berupa lava atau batu pijar. Abu vulkanik dapat terbawa angin hingga wilayah yang cukup jauh dari gunung.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa abu dari erupsi Anak Krakatau telah menyebar ke sejumlah wilayah Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat akibat pergerakan angin. Paparan abu dapat menyebabkan ISPA, iritasi mata, dan gangguan pada kulit. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
WHO juga menjelaskan bahwa abu vulkanik dan gas hasil erupsi dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut maupun kronis, iritasi mata dan kulit, serta berbagai masalah kesehatan lainnya. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Apa yang mungkin dirasakan setelah terpapar abu vulkanik?
Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
- Batuk atau tenggorokan terasa gatal
- Sesak atau napas terasa berat
- Mata merah, perih, atau berair
- Hidung terasa teriritasi
- Sakit kepala
- Kulit terasa gatal atau mengalami iritasi
- Tubuh terasa lelah
Keluhan dapat lebih berat pada anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau penyakit kardiovaskular kronis. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Jangan Tunggu Abu Terlihat Tebal
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah menganggap kondisi aman selama abu belum terlihat menumpuk.
Padahal, partikel abu vulkanik berukuran kecil dapat terhirup ke dalam saluran pernapasan.
Karena itu, jika wilayah Anda terdampak abu vulkanik:
Gunakan masker saat harus keluar
Kemenkes secara khusus mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah. Kemenkes juga menyiapkan masker medis dan N95 sebagai bagian dari respons kesehatan. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Kurangi aktivitas di luar rumah
Jika tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya tetap berada di dalam rumah.
Ini merupakan salah satu imbauan langsung Menteri Kesehatan untuk masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik Anak Krakatau. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Lindungi mata
Jika harus keluar, gunakan pelindung mata yang sesuai untuk mengurangi kontak langsung dengan abu.
Bersihkan diri setelah dari luar
Setelah beraktivitas di luar, bersihkan tubuh dan ganti pakaian agar partikel abu tidak terus menempel dan terhirup di dalam rumah. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Jangan mengucek mata
Jika abu masuk ke mata, jangan menguceknya. Bersihkan dengan air bersih dan cari pertolongan medis jika iritasi menetap atau semakin berat. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
Siapa yang Harus Lebih Waspada?
Perhatian lebih diperlukan bagi:
Anak-anak
Saluran pernapasan anak lebih rentan terhadap paparan.
Lansia
Terutama jika memiliki penyakit kronis.
Penderita asma atau penyakit paru
Abu vulkanik dapat memperburuk gangguan pernapasan.
Penderita penyakit jantung dan pembuluh darah
Paparan polutan dapat memberikan beban tambahan pada sistem kardiovaskular.
Ibu hamil dan kelompok rentan lainnya
Sebaiknya mengurangi paparan dan mengikuti arahan otoritas kesehatan setempat.
Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?
Jangan hanya menganggap keluhan sebagai "efek abu" jika muncul:
- Sesak napas yang semakin berat
- Nyeri dada
- Sulit bernapas
- Batuk berat atau terus memburuk
- Mata mengalami nyeri/iritasi berat atau gangguan penglihatan
- Kondisi tubuh semakin lemah
- Gejala penyakit kronis yang tiba-tiba memburuk
Jika mengalami kondisi tersebut, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Tetap Tenang, Tapi Jangan Lengah
Erupsi gunung api merupakan fenomena alam yang tidak dapat kita kendalikan. Namun, paparan terhadap abu vulkanik dapat kita kurangi.
Untuk saat ini, masyarakat sebaiknya:
- Kurangi aktivitas di luar rumah
- Gunakan masker jika harus keluar
- Lindungi mata dari abu
- Bersihkan diri setelah beraktivitas di luar
- Pantau informasi resmi PVMBG, Badan Geologi, BNPB, dan pemerintah daerah
- Segera mencari pertolongan jika muncul keluhan kesehatan yang berat
Yang paling penting, jangan panik dan jangan mudah percaya informasi yang belum terverifikasi. Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat untuk mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. (Badan Geologi)
Erupsi mungkin tidak bisa kita hentikan. Tetapi paparan abu vulkanik bisa kita kurangi. Lindungi pernapasan, batasi aktivitas di luar, dan jaga kesehatan keluarga.
Sumber utama
- Kementerian Kesehatan RI – Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar
- Badan Geologi ESDM – Fenomena Erupsi Menerus Gunungapi Anak Krakatau
- WHO – Volcanic Eruptions and Health
Catatan: kondisi erupsi dan arah sebaran abu dapat berubah dengan cepat. Untuk keputusan keselamatan, selalu prioritaskan informasi resmi terbaru dari pemerintah daerah, PVMBG/Badan Geologi, BNPB, dan Kementerian Kesehatan.